Senin, 14 Januari 2013

Memperkirakan pH Suatu Larutan dengan beberapa indikator



A. Standar Kompetensi : Memahami sifat – sifat larutan asam basa, metode pengukuran dan penerapannya

B. Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan teori – teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan

C. Teori
Untuk mengetahui suatu larutan bersifat asam atau basa dapat dilakukan dengan menggunakan indicator kertas lakmus. Namun, apabila ingin mengetahui berapa pH suatu larutan diperlukan indicator universal atau pH meter. Ada juga cara lain, yaitu dengan menguji larutan terebut dengan beberapa larutan tersebut dengan beberapa indicator yang telah diketahui trayek pH nya seperti pada tabel .trayek pH dan perubahan warna beberapa larutan indicator.

No.
Indikator
Perubahan Warna
Trayek pH
1.
Metil Jingga
Merah – Kuning
2,9 – 4,0
2.
Metil Merah
Merah – Kuning
4,2 – 6,3
3.
Bromtimol Biru
Kuning – Biru
6,0 – 7,6
4.
Fenolftalein
Tak berwarna – Merah
8,3 – 10,0
5.
Lakmus
Merah – biru
5,5 – 8,0


Indikator asam dan basa adalah zat yang dapat memberikan warna yang berbeda pada larutan asam dan basa. Melalui perbedaan warna tersebut akhirnya dapat diperkirakan kisaran pH suatu larutan. Trayek perubahan warna adalah batasan pH dimana terjadi perubahan warna indikator. Salah satu indikator yang umum digunakan dalam pengujian larutan asam dan basa adalah kertas lakmus. Kertas lakmus terdiri dari 2 warna yaitu lakmus biru dan lakmus merah. Jika larutan bersifat asam, maka kertas lakmus biru akan berubah menjadi merah, sedangkan kertas lakmus merah tidak akan berubah warna (tetap berwarna merah). Jika suatu larutan bersifat basa, maka kertas lakmus biru tidak akan berubah warna (tetap biru) sedangkan kertas lakmus merah akan berubah warna menjadi biru. Namun jika tidak terjadi perubahan warna kertas lakmus (lakmus biru tetap biru dan lakmus merah tetap merah) maka larutan tersebut bersifat netral.

D.Tujuan                  : Memperkirakan pH beberapa larutan dengan menggunakan kertas lakmus dan beberapa  larutan indicator asam basa

Alat dan Bahan :
  1. Tabung Reaksi
  2. Pipet Tetes
  3. Rak Tabung
  4. Larutan A, B, C
  5. Air sumur
  6. Air sungai
  7. Air Cucian Beras
  8. Air Sabun
  9. Air Kelapa
  10. Air Teh
  11. Larutan Indikator Asam Basa : MM, MJ, BTB dan PP
Cara Kerja           :
1.       Larutan yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak ¼ tabung.
2.       Larutan diuji dengan kertas lakmus merah dan biru, catat perubahan warna yang terjadi.
3.       Larutan A dimasukkan ke dalam  empat buah tabung sebanyak ¼ tabung.
4.       Diteteskan larutan indicator ( metil merah pada tabung 1, metil jingga pada tabung 2, bromo timol biru pada tabung 3, dan fenol flatein pada tabung 4 ) dengan menggunakan  pipet tetes.
5.       Diamati perubahan warna yang terjadi.
6.       Hal yang sama ( langkah 3-5 ) dilakukan pada larutan yang lain.

Hasil Pengamatan           :
  1. Pengujian dengan kertas lakmus
No.
Larutan
Perubahan Warna Lakmus
Perkiraan pH
Merah
Biru
1.
A
Biru
Biru
Basa
2.
B
Biru
Biru
Basa
3.
C
Merah
Merah
Asam
4.
Air Sumur
Merah
Merah
Asam
5.
Air Sungai
Merah
Biru
Netral
6.
Air Sabun
Biru
Biru
Basa
7.
Air Teh
Merah
Merah
Asam
8.
Air Cucian Beras
Merah
Merah
Asam
9.
Air Kelapa
Merah
Merah
Asam

2. Pengujian dengan larutan indikator
No.
Larutan
Perubahan Warna
Perkiraan pH
MM
MJ
BTB
PP
1.
A
 Kuning
 Orange
Biru tua 
 Ungu
Basa
2.
B
 Orange
 Orange
 Hijau
 Bening
Basa
3.
C
 Merah muda
 Merah
 Jingga
 Putih
Asam
4.
Air Sumur
 Kuning
 Jingga
 Hijau
 Bening
Asam
5.
Air Sungai
 Merah
 Jingga
 Hijau
 Putih
Netral
6.
Air Sabun
 Merah
 Jingga
 Biru
 Ungu
Basa
7.
Air Teh
 Merah
 Jingga
 Hijau
 Putih
Asam
8.
Air Cucian Beras
 Merah
 Jingga
 Kuning
 Putih
Asam
9.
Air Kelapa
 Merah
 Jingga
 Kuning
 Putih
Asam


H. Pembahasan
1. Sebutkan larutan apa saja yang bersifat asam, basa dan netral!
Jawab :
Asam (Larutan C, Air Sumur, Air Cucian Beras dan Air Kelapa)
Basa (Larutan A dan Air Sabun)
Netral (Larutan B, Air Sungai dan Air Teh)

2. Bagaimanakah nilai pH untuk larutan yang bersifat asam, basa dan netral?
Jawab :
pH asam adalah antara 1 (kuat) – 6 (lemah)
pH basa adalah antara 8 (lemah) – 14 (kuat)
pH netral adalah 7

I. Kesimpulan : Setelah melakukan bermacam-macam percobaan menggunakan kertas lakmus berwarna merah dan biru, serta menggunakan larutan-larutan diatas dan dapat diketahui bahwa larutan C, Air Sumur, Air Cucian Beras dan Air Kelapa memiliki pH dibawah 7 yaitu adalah bersifat asam. Untuk larutan A dan Air Sabun memiliki pH diatas 7 yang berart bersifat basa, sedangkan larutan B, Air Sungai dan Air Teh bersifat netral karena memiliki pH 7.
Tetapi saat dilakukan percobaan menggunakan larutan indicator (MM. MJ, BTB, PP) ada beberapa larutan yang hasilnya berbeda seperti larutan B, Air sungai dan Air Teh yang menunjukkan pH dibawah 7 yaitu 4,0 untuk larutan B dan 6,3 untuk Air Sungai dan juga Air Teh.

Nama Kelompok:
  1. Nurin Shabrina
  2. Reysmia R.F
  3. Salsabilla Intan
  4. Tiana Handayani

  • XI IPA 1




Sabtu, 12 Januari 2013

Jangan Membentak Anak

Terkadang orang tua menganggap bentuk "bentakan" menjadi salah satu solusi untuk menyelesaikan semua masalah pada anak tersebut, padahal itu sama sekali tidak! anak hanya terdiam saat di bentak, seakan-akan dia mengerti dan memahami, padahal anak tersebut tertekan, sebenarnya tindakan untuk membentak anak, adalah hal yang sangat tidak baik, karna sangat berdampak negatif pada pola pikiran anak tersebut. orang tua sebaiknya lebih peka terhadap anaknya, agar anak itu tidak melakukan kesalahan, bimbinganlah yang sangat berpengaruh besar, bukan dengan cara memarahinya dan membentaknya. ini adalah dampak seorang anak:


1. Minder
Bila anak selalu dibentak , dicela dan tak pernah menerima perhatian posistif ,saat ia melakukan kebaikan , maka ia dapat tumbuh menjadi tidak percaya diri atau minder. Akan tertanam dalam jiwanya bahwa ia hanyalah anak yang selalu melakukan kesalahan, tidak pernah berbuat kebaikan atau menyenangkan orang lain. Akibatnya ia sering ragu-ragu atau tidak percaya diri untuk melakukan atau mencoba sesuatu , karena takut salah. Misalnya anak jadi tidak pede untuk mengaji . Gara-garanya orang tuanya sering membentaknya jika bacaannya salah.
2. Cuek/ tidak peduli
Anak yang selalu dibentak juga bisa berkembang menjadi anak yang cuek dan tidak peduli. Akibat terlalu sering menerima bentakan, ia malah jadi anak apatis, tidak peduli. Ia pun makin sering mengabaikan nasihat orang tuanya. Mungkin saat dibentak atau dimarahi ia terlihat diam dan mendengarkan, tapi sesungguhnya kata-kata orang tuanya hanya dianggap angin. Masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.
3. Tertutup
Orang tua yang temperamental dan suka membentak, tentu akan menakutkan anak. Anak jadi takut pada orang tuanya sendiri, sehingga ia menjadi pribadi tertutup. Dia tak pernah berbagi cerita dengan orang tuanya. Buat apa berbagi kalau ujung-ujungnya ia disalahkan. Dengan demikian komunikasi orang tua dan anak terhambat. Hal ini berbahaya jika anak menghapai masalah besar namun menyimpannya sendiri, karena jiwanya tertekan
4. Pemberontak/ penentang
Anak yang bersikap menentang bisa digolongkan dalam 3 (tiga) tipe:
 tipe penentang aktif.
  • Mereka jadi anak yang keras kepala, suka membantah dan membangkang apa saja kehendak orang tuanya. Mereka marah karena merasa tidak dihargai oleh orang tua. Untuk melawan jelas tidak bisa karena masih amat kecil. Maka ia pun berusaha menyakiti orang tua. Ia akan senang jika orang tuanya jengkel karena ulahnya. Semakin tambah emosi orang tua, semakin senang anaknya.

- tipe penentang dengan cara halus.
  • Anak-anak ini jika diperintah memilih sikap diam, tapi juga tidak memenuhi perintah. Contohnya Chiko. Saat disuruh mandi oleh mamanya, tidak mau beranjak dari tempatnya main. Saat ditinggalkan sendiri di kamar mandi, ia tak segera mandi malah main air,
tipe selalu terlambat.
Anak seperti ini baru bergerak mengerjakan perintah orang tuanya setelah terlebih dahulu melihat orang tuanya jengkel, marah, mengomel, membentak kemalasannya. Misalnya Chiko tidak mau tidur meskipun sudah larut malam. Ia baru pergi tidur, saat mamanya membentak dengan mata melotot.
5. Pemarah, temperamental, suka membentak
Orang tua adalah model bagi anak. Anak sering meniru sikap orang tuanya. Bila orang tua suka marah atau main bentak, karena sebab sepele, maka anakpun bisa berbuat sama. Jangan heran bila anak diperlakukan demikian, maka ia pun bisa berbuat sama , membentak adiknya atau temannya.
Bagaimana menumbuhkan kepatuhan pada anak ?
Setelah jelas bentakan tidak efektif menumbuhkan kepatuhan, bahkan berpengaruh negatif pada perkembangan jiwa anak, lalu bagaimanakah cara yang baik untuk menumbuhkan kepatuhan ?
1. Beri penjelasan pada anak.
Jelaskan dengan bahasa yang dimengerti. Mengapa suatu hal diperintahkan sedangkan yang lain dilarang. Jangan berbohong.
2. Perintahlan kebatas kemampuannya.
Perintah di luar kemampuannya justru bisa menyebabkan anak mengalami krisis syaraf (neurotic) dan buruk perangainya. Untuk mengetahui sampai di mana batas kemampuan anak, diperlukan pengetahuan sendiri. Sebaiknya orang tua memahaminya.
3. Tidak berdusta, tidak menakuti
Kadang orang tua mengatakan akan membelikan ini itu jika anak mematuhi perintahnya,,,,, tapi ternyata setelah anak patuh, orang tua ingkar janji. Orang tua berdusta, bisa jadi anak tak akan percaya lagi pada orang tuanya. Kedustaan seperti ini harus dihindari.
Selain itu orang tua juga sering menakuti anak dengan sesuatu yang seharusnya berguna untuknya , tujuannya supaya anak patuh. Misalnya menakuti anak bila tidak patuh akan dibawa ke dokter untuk disuntik. Ketakutan anak ini bisa terbawa sampai dewasa.
4. Jangan bertentangan dengan naluri anak
naluri adalah kekuatan terpendam dalam diri manusia yang mendorongnya untuk melakukan pekerjaan tertentu tanpa perlu berlatih. Jangan melarang anak bermain, membongkar atau memasang sesuatu. Jangan pula melanggar kebiasaan anak jika tak ingin mereka menggunakan jeritan sebagai senjatanya.
Lebih baik diatur sedemikian rupa sehingga anak bisa mengatur dirinya sendiri.
Misalnya,
“TPA nanti setelah ba’da asyar, sekarang sudah setengan tiga lo. Kakak sudah ya mainnya. Dilanjutin besok lagi. Sekarang mandi dulu, kan sudah mau adzan.
Kata-kata ini tidak melarang anak bermain, juga tidak melanggar kebiasaan anak main siang hari. Pemberian masa terbatas ini dimaksudkan agar anak bisa mengatur jadwalnya sendiri dan selain itu mereka merasa dianggap mampu oleh orang tuanya untuk mengatur diri sendiri tanpa harus didikte begini dan begitu.

Rabu, 31 Oktober 2012

Pembuatan Larutan Kimia

Standar Kompetensi       : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia dan faktor – faktor yang  memengaruhinya serta   penerapannya dalam kehidupan

Kompetensi Dasar           : Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan tentang faktor – faktor yang memengaruhi laju reaksi

Tujuan Pembelajaran     : Menjelaskan pengertian kemolaran, serta cara menyediakan larutan dengan kemolaran tertentu

Teori                                      :

Zat kimia umumnya diperdagangkan dalam bentuk padatan  (Kristal) atau larutan pekat, jarang sekali dalam bentuk pakai. Sementara itu, di percobaan – percobaan laboratorium seringkali menggunakan larutan encer. Oleh karena itu, larutan yang diperlukan harus dibuat dari larutan pekat atau melarutkan zat padat.  Membuat larutan dari padatan murni dilakukan dengan mencampurkan zat terlarut dan pelarut dalam jumlah tertentu. Larutan dibuat dengan konsentrasi tertentu, dan dinyatakan dalam konsentrasi Molaritas (M).

M = n/V      Dimana, M = Molaritas

n = jumlah zat terlarut (mol)

V = Volume Larutan (Liter)



Salah satu keuntungan jika konsentrasi larutan dinyatakan dengan kemolaran, maka menentukan jumlah mol zat terlarut dapat diperoleh dengan mengukur volume larutan.

Ketika bekerja di laboratorium juga diperlukan untuk mengencerkan larutan,yaitu memperkecil konsentrasi larutan dengan jalan menambahkan sejumlah tertentu pelarut. Pengenceran menyebabkan volume dan kemolaran larutan berubah, tetapi jumlah zat terlarut tidaklah berubah. Maka n1 = n2 atau

V1. M1 = V2 M2

Alat dan Bahan   :

Neraca                                                     8. Asam Oksalat C2H2O4                                 
Kaca Arloji                                            9. Aquadest
LAbu Ukur 100 ml dan 50 ml
 Pipet Volumetrik 25 ml
  Pengaduk
 Corong
 Bulp
Cara Kerja           :

Timbang ± 0.5 gram asam oksalat ke dalam kaca arloji
Masukkan asam oksalat ke dalam labu ukur 100 ml
Larutkan dengan aquadest, dan tambahkan hingga tanda batas
Kocok larutan sampai homogen
Pipet 25 ml larutan tersebut ke dalam labu ukur 50 ml, tambahkan aquadest hingga tanda batas.


Perhitungan       :

a.Hitung Molaritas larutan asam oksalat!
b.Hitunglah konsentrasi asam oksalat setelah diencerkan

Jawab:
a. M= gr/mr .1000/v
       = 0,5/90 . 1000/100
       = 0,5/90 . 10
       = 0,056 M

b. M1.V1   =  M2 . V2
   0,056.25 = M2 . 50
    1,4         = M2 . 50
      M2       = 0,028 M

 Kesimpulan        :
= Molaritas dari asam oksalat adalah 0,056 M dan konsentrasi asam oklasat setelah diencerkan adalah 0,028 M.

Kelompok 6:
  • Nurin Shabrina
  • Reysmia Rizky Febria
  • Salsabilla Intan Gofika Setiono
  • Tiana Handayani
  • Widya Naufalinda
XI IPA 1 (@cosinus13)

Ciri-ciri Ekstrovert dan Introvert


Ciri-ciri Ekstrovert:
  • Merasa tertarik keluar oleh permohonan dan kesempatan dari luar
  • Semangat karena orang lain dan pengalaman dari luar
  • Interupsi merupakan suatu kesempatan
  • Senang bersama orang lain
  • Kehidupan yang tidak dapat dinikmati tidak perlu diselidiki
  • Lakukan dulu, baru refleksi
  • Berusaha mencari aktivitas
  • Sering bersahabat, banyak bicara, mudah mengenalnya
  • Problema dapat diselesaikan dari luar
  • Berbicara dan asah otak kuat-kuat tanpa di edit dulu
  • Menghargai berbagai hubungan
  • Memberi nafas untuk hidup
  • Kelihatan dangkal untuk saya


Ciri-Ciri sifat Introvert
                                           
  • Merasa didorong dari dalam oleh permintaan dari luar dan instrusi
  • Bersemangat yang berasal dari dalam serta dari pengalaman pribadi
  • Suatu interupsi adalah suatu gangguan / intrusi
  • Senang berangan-angan
  • Kehidupan yang tidak diselidiki lebih dahulu tidaklah layak dihidupi
  • Berpikir dulu, baru berbuat / bertindak
  • Mencari teman yang sunyi
  • Sering bersifat rahasia, berdiam diri, sukar untuk mengetahuinya
  • Menyimpan emosi untuk dirinya sendiri
  • Problema dapat diselesaikan sendiri
  • Harus dipikirkan matang-matang lebih dahulu, baru dibicarakan
  • Menghargai keadaan terpencil
  • Mempertimbangkan dengan dalam akan kehidupan
  • Lebih tertarik kepada dirinya sendiri

Selasa, 16 Oktober 2012

Tugas Praktikum Kimia

MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI NETRALISASI


  • Standar Kompetensi Pengukurannya ; Memahami perubahan energy dalam reaksi kimia dan cara pengukurannya.
  • Kompetensi Dasar : Menentukan delta H reaksi berdasarkan percobaan, Hukum hess, data perubahan entalpi dan data energy ikatan.

  1. Tujuan: menentukan perubahan entalpi reaksi larutan NaOH dengan larutan HCl dengan kalorimeter.
  2. Teori :

Setiap zat mengandung energi. Entalpi adalah energi yang terkandung didalam zat. Perubahan suhu energy zat didalam reaksi disebut dengan perubahan entalpi reaksi.Panas reaksi adalah energi yang dilepaskan atau diserap bila jumlah mol masing-masing zat sama dengan koefisien reaksinya.Panas pembentukan adalah energy yang dilepaskan atau diserap pada pembentukan 1 mol zat dari unsur-unsurnya.



q= m x c x ∆T

∆ H  =  – q/mol

M = massa (gram)

c  = kalor jenis air (4,2 J/g.oC)

∆T= perubahan suhu (oC)

Menurut Hukum Hess, banyaknya energy yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia tidak tergantung kepada jalannya reaksi, melainkan kepada keadaan awal dan keadaan akhir reaksi.ada energi  sistem, ada energi luar. Entalpi adalah energi sistem.

3.Alat dan Bahan

a. Kalorimeter                              f.   Termometer
b. Gelas kimia 100 ml                  g.  Pengaduk
c. Gelas ukur 50 ml
d. Larutan NaOH 1 M
e. Larutan HCl 1 M

4. Cara Kerja:
a. Masukkan 50 ml larutan NaOH 1 M ke dalam gelas ukur, ukur suhu larutan
b. Masukkan  ke dalam calorimeter
c. Masukkan 50 ml larutan HCl 1 M ke dalam gelas ukur, ukur  suhu larutan
d. Masukkan  ke dalam calorimeter
e. Aduk campuran larutan. Amati suhunya yang naik, kemudian tetap. Catat suhu yang tetap sebagai suhu akhir reaksi.

Reaksi    :               NaOH  +  HCl  –>   NaCl + H2O

5. Hasil  Pengamatan

Suhu Awal HCl           : 31°C
Suhu Awal NaOH       : 30°C
Suhu Campuran           :36°C
Perubahan Suhu           : 5°C

PERTANYAAN

1.Hitunglah jumlah mol dalam 50 ml larutan HCl 1 M dan jumlah mol dalam 50 ml larutan NaOH 1 M!
   Jawab:
      50 ml= 0,05 L
      Mol HCl = M HCl . L      HCl      mol NaOH = M NaOH . L NaOH
            = 1 x 0,05                                       = 1 x 0,05
            = 0,05 mol                                      = 0,05 mol

2.Hitunglah jumlah kalor yang dibebaskan per mol H2O yang terbentuk dalam reaksi ini….
   Jawab:
   Dik :
m = 50+50 = 100ml
c = 4,18 J/gK
Δt= 5°C           

 
Q   = m.c.Δt
      = 100. 4,18 . 5
      = 2090 J

ΔH= q/ mol
     = m.c.Δt
            Mol
     = 100 . 4,18 . 5
            0,05
     = 2090  = - 41800 J/mol
         0,05
                   = - 41,8 KJ/mol


3. Tulislah persamaan termokimia untuk reaksi tersebut!
    = NaOH (aq) +  HCl (aq) –>   NaCl (aq) + H2O(l)


KESIMPULAN:
Percampuran antara senyawa NaOH dengan senyawa HCl akan menyebabkan terjadinya kenaikan suhu. Sehingga reaksi ini dikatakan sebagai reaksi eksoterm. Dan termasuk jenis reaksi ΔH pelarutan standar




PENENTUAN  PERUBAHAN ENTALPI PEMBAKARAN BAHAN BAKAR

Tujuan                  : Menentukan ∆ H pembakaran methanol

Alat dan Bahan  :

 Gelas Kimia
Pembakar spirtus
Neraca
Metanol
Air
Termometer
Langkah Kerja    :

Timbang air dalam gelas kimia sebanyak 100 ml
Ukur suhu air awal dan catat suhunya
Isi pembakar spirtus dengan methanol, timbang pembakar tersebut dengan neraca
Nyalakan pembakar spirtus dan panaskan air sampai hampir mendidih
Catat suhu air,pada saat lampu spirtus dimatikan
Timbang pembakar spirtus setelah pemanasan
Hasil pengamatan            :

Massa air             :100 gr
Massa lampu + methanol sebelum pemanasan  :181,5 gram
Massa lampu + methanol setelah pemanasan    :167,6 gram
Suhu air awal     :31°C
Suhu air setelah pemanasan       :96°C
Massa methanol yang hilang       :16,9 gram
Mr methanol (CH3OH)   :32

Perhitungan                       :
 q  reaksi = m.c.∆T
∆ H = – q/mol methanol
                     
 q reaksi = m air . c air . Δt air                mol methanol = gr/ Mr
            = 100 . 4,2 . 65                                                = 16,9/ 32 = 0,528
            = 27300 J

ΔH = -q / mol
      = - 27300 / 0.528 = - 51704,54 J/mol
                                = - 51,7 KJ/mol


Kesimpulan                        :
Pada peristiwa pemanasan air dengan menggunakan lampu spirtus, tentu suhu air akan naik. Dan setelah peristiwa pemanasan, massa lampu spirtus akan berkurang. Karena sudah terpakai pada saat pemanasan air. Peristiwa ini termasuk reaksi eksoterm karena terjadi kenaikan suhu.